Aku berbelas kasih dan berbaik hati, tidak mudah marah, dan memperkaya cinta untukmu. belas kasihKu tidak pernah berakhir. belas kasihKu baru dan tersedia untukmu setiap pagi. karena cintaKu untukmu, Aku bahkan meminjamkan Yesus. kamu dapat mempercayai Aku untuk memenuhi kebutuhanmu.
Dengan baik hati,
Tuhanmu yang Penuh Cinta

Setelah dibesarkan dan dilatih oleh ayahnya untuk meneruskan bisnis pembuatan jam tangan milik keluarganya yang telah berumur 100 tahun, di tahun 1918, Cornelia menjadi wanita pembuat jam tangan berlisensi pertama di Holland.
Tapi di usia 50 tahun, Cornelia menemukan dirinya di tengah-tengah krisis nasional yang mengubah kehidupannya selamanya. Dihadapkan dengan pertanyaan tentang peran apa yang akan dua mainkan dalam membantu negaranya yang sedang berperang sengit, dia berdoa, "Tuhan Yesus, saya menawarkan diri saya untuk orang-orangmu, dalam cara apapun, di tempat apapun, dan kapan pun."
Disela-sela hari ketika Cornelia berdoa, seluruh keluarganya menjadi bagian yang penting dari misi penyelamatan bawah tanahnya dengan cara menyembunyikan semua yang datang ke rumah mereka untuk mencari perlindungan dari diskriminasi ras.
Di bulan Februari 1944, seorang teman yang dipercaya menghianati keluarga Cornelia dan mengatakan kepada Gestapo tentang aktivitas mereka. Mereka semua ditangkap karena melindungi pengkhianat bangsa Yahudi. Ketika berada di penjara di Ravensbruck Concentration Camp, Cornelia dan adiknya, Betsy "menyelundupkan" Kitab Suci, menerjemahkan Kitab Suci bahasa Belanda ke dalam bahasa Jerman, dan melayani sesama tahanan yang berkumpul untuk mendengarkan kata-kata Tuhan. Mereka bahkan berterima kasih kepada Tuhan untuk kutu-kutu yang membuat penjaga menjauhi asrama mereka dan membuat mereka bisa melayani Tuhan tanpa hambatan.
Cornelia telah merasakan kehilangan ayahnya, saudara perempuannya, Betsy, dan seorang keponakan ketika berada di kamp konsentrasi. Dia secara tidak sengaja dibebaskan di tahun 1945 karena ada kesalahan administrasi dan kemudian satu minggu setelah pembebasannya, dia mengetahui bahwa semua wanita dieksekusi dalam ruangan gas. "Aku tahu hidupku telah diberikan kembali untuk suatu tujuan di mana diriku bukanlah hanya milikku sendiri."
Di tahun 1945, Cornelia membangun sebuah pelayanan di Bloemendaal untuk para korban perang di Holland. Meskipun dia mendapatkan cukup banyak penderitaan dan rasa sakit, tidak hanya kepada Tuhan, tapi juga kepada orang-orang yang membutuhkan cintaNya.
Dia kemudian membuka rumah milik ayahnya sendiri dan merenovasi sebuah kamp konsentrasi Jerman untuk para imigran. Dia akhirnya berpergian ke lebih dari enam puluh negara, berbagi pesan dari cinta dan pembaruan Tuhan, serta juga membawa pesannya sendiri, bahwa "tidak ada lubang yang terlalu dalam dibandingkan kedalaman Tuhan Yesus."
Ketika dia berusia 75 tahun, Cornelia, yang dikenal luad di seluruh dunia sebagai Corrie ten Boom, tidak membiarkan luka dari kecelakaan mobil serius memperlambat aktivitasnya. Dia mempercepat penyembuhannya dengan cara berlatih beban dan menggerakkan jari-jarinya dengan bermain piano, dan dia belajar menulis dengan tangan kiri.
Ketulusan Corrie ten Boom meningkat seiring pertambahan usianya. Dia menerbitkan 18 buku dan terjual lebih dari 6juta kopi. The Hiding Place terjual lebih daari satu juta kopi dan menjadi film yang ditonton lebih dari lima belas juta orang.
Sampai kematiannya di tahun 1983, Corrie ten Boom tetap tulus pada impian dirinya dan saudara perempuannya, yaitu untuk mengatakan kepada dunia bahwa "ketika yang terburuk terjadi di dalam hidup seorang anak Ruhan, yang teraik tetap tinggal."
Dengan baik hati,
Tuhanmu yang Penuh Cinta

Setelah dibesarkan dan dilatih oleh ayahnya untuk meneruskan bisnis pembuatan jam tangan milik keluarganya yang telah berumur 100 tahun, di tahun 1918, Cornelia menjadi wanita pembuat jam tangan berlisensi pertama di Holland.
Tapi di usia 50 tahun, Cornelia menemukan dirinya di tengah-tengah krisis nasional yang mengubah kehidupannya selamanya. Dihadapkan dengan pertanyaan tentang peran apa yang akan dua mainkan dalam membantu negaranya yang sedang berperang sengit, dia berdoa, "Tuhan Yesus, saya menawarkan diri saya untuk orang-orangmu, dalam cara apapun, di tempat apapun, dan kapan pun."
Disela-sela hari ketika Cornelia berdoa, seluruh keluarganya menjadi bagian yang penting dari misi penyelamatan bawah tanahnya dengan cara menyembunyikan semua yang datang ke rumah mereka untuk mencari perlindungan dari diskriminasi ras.
Di bulan Februari 1944, seorang teman yang dipercaya menghianati keluarga Cornelia dan mengatakan kepada Gestapo tentang aktivitas mereka. Mereka semua ditangkap karena melindungi pengkhianat bangsa Yahudi. Ketika berada di penjara di Ravensbruck Concentration Camp, Cornelia dan adiknya, Betsy "menyelundupkan" Kitab Suci, menerjemahkan Kitab Suci bahasa Belanda ke dalam bahasa Jerman, dan melayani sesama tahanan yang berkumpul untuk mendengarkan kata-kata Tuhan. Mereka bahkan berterima kasih kepada Tuhan untuk kutu-kutu yang membuat penjaga menjauhi asrama mereka dan membuat mereka bisa melayani Tuhan tanpa hambatan.
Cornelia telah merasakan kehilangan ayahnya, saudara perempuannya, Betsy, dan seorang keponakan ketika berada di kamp konsentrasi. Dia secara tidak sengaja dibebaskan di tahun 1945 karena ada kesalahan administrasi dan kemudian satu minggu setelah pembebasannya, dia mengetahui bahwa semua wanita dieksekusi dalam ruangan gas. "Aku tahu hidupku telah diberikan kembali untuk suatu tujuan di mana diriku bukanlah hanya milikku sendiri."
Di tahun 1945, Cornelia membangun sebuah pelayanan di Bloemendaal untuk para korban perang di Holland. Meskipun dia mendapatkan cukup banyak penderitaan dan rasa sakit, tidak hanya kepada Tuhan, tapi juga kepada orang-orang yang membutuhkan cintaNya.
Dia kemudian membuka rumah milik ayahnya sendiri dan merenovasi sebuah kamp konsentrasi Jerman untuk para imigran. Dia akhirnya berpergian ke lebih dari enam puluh negara, berbagi pesan dari cinta dan pembaruan Tuhan, serta juga membawa pesannya sendiri, bahwa "tidak ada lubang yang terlalu dalam dibandingkan kedalaman Tuhan Yesus."
Ketika dia berusia 75 tahun, Cornelia, yang dikenal luad di seluruh dunia sebagai Corrie ten Boom, tidak membiarkan luka dari kecelakaan mobil serius memperlambat aktivitasnya. Dia mempercepat penyembuhannya dengan cara berlatih beban dan menggerakkan jari-jarinya dengan bermain piano, dan dia belajar menulis dengan tangan kiri.
Ketulusan Corrie ten Boom meningkat seiring pertambahan usianya. Dia menerbitkan 18 buku dan terjual lebih dari 6juta kopi. The Hiding Place terjual lebih daari satu juta kopi dan menjadi film yang ditonton lebih dari lima belas juta orang.
Sampai kematiannya di tahun 1983, Corrie ten Boom tetap tulus pada impian dirinya dan saudara perempuannya, yaitu untuk mengatakan kepada dunia bahwa "ketika yang terburuk terjadi di dalam hidup seorang anak Ruhan, yang teraik tetap tinggal."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar